Minggu, 17 April 2016

Pelayanan Guru Sekolah Minggu



MAKALAH AGAMA KRISTEN
TENTANG PELAYANAN GURU SEKOLAH MINGGU




DISUSUSUN OLEH
RIANA NOVITASARI

KELAS : 2KA01
 
 






FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016


BAB I
PENDAHULUAN
                                                                
A.       Latar Belakang
       Mempelajari apa yang Alkitab katakan tentang anak-anak dan juga melalui sejarah Pelayanan Sekolah Minggu, kita dapat menarik prinsip-prinsip tentang pentingnya gereja mendidik anak-anak dengan pokok-pokok iman Kristen.
       Pelayanan Anak Masa Perjanjian Lama ( Ulangan 6:4-7 ) kalau kita menelusuri kembali zaman perjanjian lama, maka sebenarnya Alkitab telah memberikan perhatian yang serius terhadap pembinaan rohani anak. Pada masa itu pembinaan rohani anak dilakukan sepenuhnya dalam keluarga ( Ulangan 6:4-7 ). Sejak sebelum usia lima tahun anak telah dididik oleh orang tuanya untuk mengenal Allah Yahweh. Pada masa pembuangan di babilonia (500 SM), ketika tuhan menggerakan Ezra dan para ahli kitab untuk membangkitkn kembali kecintaan bangsa Israel kepada Taurat Tuhan, maka dibukalah tempat ibadah sinagoge dimana mereka dapat belajar firman Tuhan kembali, termasuk diantaara mereka adalah anak-anak kecil. Orang tua wajib mengirimkan anak-anaknya yang berusia dibawah lima tahun ke Sinagoge. Disana mereka dididik oleh Guru-guru sukarelawan yang mahir dalam kitab Taurat. Anak-anak dikelompokan dengan jumlah maksimum 25 orang dan dibimbing untuk aktif berpikir dan bertanya, sedangkan guru menjadi fasilitator yang selalu siap sedia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
       Pelayanan Anak Masa Perjanjian Baru ( 1 Timotius 3:15 ) Ketika orang-orang yahudi yang dibuang di babilonia diizinkan pulang ke palestina, mereka meneruskan tradisi membuka tempat ibadah Sinagoge ini di palestina sampai masa Perjanjian Baru. Sebagaimana anak-anak Yahudi yang lain, ketika masih kecil Tuhan Yesus juga menerima pengajaran Taurat di Sinagoge. Dan pada usia dua belas tahun Yesus sanggup bertanya dengan para ahli Taurat di Bait Allah. Tradisi mendidik anak-anak secar ketat terus berlangsung sampai pada masa rasul-rasul ( 1 timotius 3:15 ) dan gereja mula-mula. Namun, tepat untuk mendidik anakperlahan-lahan tidak lagi dipusatkan di Sinagoge tetapi di gereja, tempat jemaat Tuhan berkumpul. Tetapi sayang sekali pada abab pertengahan gereja tidak lagi memelihara kebiasaan mendidik anak seperti abad-abad sebelumnya. Bahkan orang dewasa pun tidak lagi mendapatkan pengajaran firman Tuhan dengan baik. Barulah saat reformasi, gerakan pengembalian  kepada pengejaran Alkitab dibangkitkan lagi, dan pendidikan terhadap anak-anak mulai digalakkan kembali, khususnya melalui kelas katekismus (kateksasi). Untuk itu, hanya para pekerja gereja sajalah yang diizinkan untuk terlibat dalam pembinaan. Namun, kurangya orang terlatih untuk mengajarkan kelas Katekismus menyebabkan pelayanan anak menjadi mundur bahkan perlahan-lahan tidak lagi menjadi perhatian utama gereja dan diadakan hanya sebagai prasyarat bagi anak-anak yang akan menerima konfirmasi (baptis sidi).
B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam Makalah ini yang berjudul “Pelayanan Guru Sekolah Minggu” adalah antara lain:
1.      Bagaimana sekolah minggu dapat berbentuk?
2.      Syarat apa yang dibutuhkan untuk menjadi Pelayan Guru Sekolah Minggu?
3.      Kewajiban dan tanggung jawab apa yang harus dimiliki Pelayan Guru Sekolah Minggu?
4.      Kendala apa yang dihadapi dalam menjadi Pelayan Guru Sekolah Minggu?
5.      Bagaimana Pelayanan Guru Sekolah Minggu di GSJA BATU KARANG?

C.    Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan dari makalah ini yang berjuudul “Pelayanan Guru Sekolah Minggu” yaitu
1.      Untuk mengetahui kapan sekolah minggu sudah mulai terbentuk.
2.      Untuk mengetahui Syarat apa sajakah yang harus dimiliki oleh Pelayan Guru Sekolah Minggu.
3.      Untuk mengetahui apa saja Kewajiban dan tanggung jawab dalam memenang Pelayanan Guru Sekolah Minggu.
4.      Untuk mengetahui apa saja tantangan menjadi Guru Sekolah Minggu
5.      Untuk mengetahui bagaimana Pelayanan Guru Sekolah Minggu di GSJA BATU KARANG
D.    Metode Perolehan Data
Metode perolehan data ini penulis dapatkan dari  metode tidak langsung atau dengan cara mencari lewat internet dan buku-buku yang berhubungan dengan Makalah yang penulis buat.
Sumber-sumber yang antara lain didapat dari Alkitab dan Buku Bahan Materi Pelatihan Guru-guru Sekolah Minggu




BAB II
PEMBAHASAN
A.           Sejarah Sekolah Minggu
 Pada abad 18, seorang wartawan inggris bernama Robert Raikes, digerakan oleh rasa cinta kepada anak-anak, membuat suatu gerakan yang akhirnya mendorong lahirnya Pelatihan Sekolah Minggu.
Pada masa akhir abad 18, inggris sedang dilanda suatu krisis ekonomi yang sangat parah. Setiap orang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan anak-anak dipaksa bekerja untuk bisa mendapatkan penghidupan yang layak. Pada saat itu, wartawan Robert Raikes mendapat tugas untuk meliput berita tentang anak-anak gelandangan di Gloucester bagi sebuah harian (Koran) milik ayahnya, apa yang dilihat Robert sangat memprihatinkan sebab anak-anak gelandangan itu harus bekerja dari hari Senin sampai Sabtu. Apa yang dilakukan anak-anak pada hahri Minggu itu? Hari minggu adalah satu-satunya hari libur bagi mereka yang dihabiskan untuk bersenang-senang. Tapi karena mereka tidak pernah mendapat pendidikan (karena tidak bersekolah), anak-anak itu menjadi sangat liar. Mereka minum-minum dan melakukan berbagai macam kenakalan dan kejahatan.
Melihat keadaan itu Robert Raikes bertekat untuk mengubah keadaan. Ia dengan beberapa teman mencoba melakukan pendekatan kepada anak-anak tersebut dengan mengundang mereka berkumpul di sebuah dapur milik Ibu Meredith di kota Scooty Alley. Selain mendapat makanan, di sana mereka juga diajarkan sopan santun termasuk membaca dan menulis. Tapi hal yang paling indah yang diterimaanak-anak disitu adalah mereka mendapat kesempatan mendengar cerita-cerita alkitab. Pada mulanya pelayanan ini sangat tidak mudah. Banyak anak yang datang dalam keadaan yang sangat kotor dan berbau. Namun, dengan cara mendidik yang disiplin, kadang dengan pukulan rotan yang dilakukan dengan penuh cinta kasih, anak-anak itu akhirnya belajar untuk mau dididik dengan baik, sehingga semakin lama semakin banyak anak yang datang kedapur Ibu Meredith. Semakin banyak juga gur yang disewa untuk mengajar mereka, bukan hanya untuk belajar membaca dan menulis tetapi juga Firman Tuhan, perjuangan yang sangat sulit tapi melegakan. Dalam waktu empat tahun sekolah yang diadaskan pada hari Minggu itu semakin berkembang bahkan kekota-kota lain di inggris. Dan jumlah anak-anak yang datang ke sekolah hari minggu terhitung mencapai 250.000 anak di seluruh inggris.
Mula-mula, gereja tidak mengakui kehadiran gerakan Sekolah Minggu yang dimulai oleh Robert Raikes ini. Tetapi karena kegigihannya menulis ke berbagai publikasi dan membagikan visi pelayanan anak ke masyarakat di Inggris, dan juga atas bantuan John Wesley (pendiri gereja Methodis), akhirnya kehadiran sekolah minggu diterima oleh gereja. Mula-mula hanya orang gereja Methodis, namun akhirnya juga oleh gereja-gereja protestan lain. Ketika Robert Raikes meninggal dunia tahun 1811, jumlah anak yang hadir di Sekolah Minggu diseluruh inggris mencapai lebih dari 400.000 anak. Dari pelayanan anak ini, inggris tidak hanya diselamatkan dari revolusi sosial, tapi juga diselamatkan dari generasi yang tidak mengenal Tuhan.
Gerakan Sekolah Minggu yang dimulai di inggris ini akhirnya menjalar ke berbagai tempat di dunia, termasuk negara-negara Eropa lainnya dank ke Amerika. Dan dari para misionaris yang pergi melayani ke negara-negara Asia, akhirnya pelayanan anak melalui Sekolah Minggu juga hadir di Indonesia.

B.            Syarat menjadi Pelayan Guru Sekolah Minggu
Ada satu anggapan keliru yang beredar di kalangan masyarakat Kristen, yang mengatakan bahwa siapa saja bisa menjadi pelayan Tuhan. Karena Tuhan itu Maha kasih, Ia pasti mau menerima siapa saja untuk melayani Dia. Memang benar bahwa Tuhan tidak memilih orang berdasaikan kepandaiannya, kebaikannya, atau kemampuannya saja. Namun demikian ini tidak boleh diartikan bahwa orang yang melayani Tuhan tidak perlu belajar keras, tidak perlu berusaha memberikan yang terbaik dan tidak perlu menjadi pandai. Mari kita renungkan ayat-ayat berikut ini.
“janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tau, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.”(Yakobus 3:1)
“seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan lemah lembut menuntun orang yang suka melawan,” (2 Timotius 2:24)
“Mereka (diaken/pelayan Tuhan) juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat.” (1 Timotius 3:10)
“Sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat (pelayan Tuhan) harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah…” (Titus 1:7)
sebagian ayat-ayat Alkitab di atas kita mengetahui bahwa Tuhan memiliki tuntutan yang cukup tinggi bagi mereka yang ingin melayani-Nya. Demikian juga untuk gru-guru SM, yang adalah hamba-hamba Tuhan. Di atas bahu guru SM tergantung masa depan generasi penerus jemaat/gereja Tuhan. Jika Tuhan telah memanggil Anda untk menjadi guru SM, Tuhan berhak membentuk dan memperlengkapi Anda dengan kemampuan yang sesuai dengan penggilan yang telah Ia berikan. Tapi ini semua merupakan proses sehingga tidak berarti Anda harus sudah memiliki semua kemampuan terlebih dahulu baru boleh menjadi guru SM. Roh Kudus akan terus-menerus memimpin hidup kita supaya hidup kita semakin hari menjadi semakin sempurna seperti Kristus.


Secara ideal, berikut syarat-syarat dasar yang harus dimiliki oleh pelayan guru SM:
1.    Memiliki hari yang baru (Yohanes 3:3; 1 Korintus 2:14; 2 Korintus 5:17). Guru sekolah minggu haruslah seorang yang rohnya telah diperbarui oleh Roh Kudus atau sudah lahir baru. Guru sekolah minggu yang mengenal Tuhan Yesus secara pribadi dan sungguh-sungguh mengalami kasih-Nya yang luar biasa akan dapat dengan mudah menceritakan anak-anak yang dilayaninya siapakah Yesus yang sesungguhnya.
2.    Memiliki hati yang lapar (1 Petrus 2:2; Yohanes 6:35). Guru sekolah minggu haruslah seorang yang rindu memiliki hati yang selalu lapar dan haus akan firman Tuhan. Dari persekutuannya dengan firman Tuhan, guru bertumbuh dan siap menjadi berkat karena hidupnya adalah seperti aliran air yang tidak pernah kering.
3.    Memiliki hati yang taat (Filipi 1:21-22; Galatia 2:20-21). Hidup seorang guru SM adalah milik kristus. Karena itu, hidupnya adalah hidup yang taat sebagai hamba yang setia dan rela menjalankan apa yang dikehendaki oleh Tuannya.
4.    Memiliki hati yang disiplin (Roma 12:11; 2 Korintus 4:8). Guru SM harus bergumul untuk memiliki hati yang disiplin dan tidak tergoyahkan karena kesulitan. Guru juga harus berani memaksakan diri untuk tidak hanyut dalam kejenuhan karena rutinitas belajar dan mengajar. Hati yang disiplin akan menolong kita untuk senantiasa melayani secara konsisten, berapi-api, dan terus memberikan kemajuan.
5.    Memiliki hati yang mengasihi (Yohanes 3:16; efesus 4:1-2). Guru SM yang telah mengalami kasih Tuhan akan sanggup mengasihi anak-anak didiknya, sekalipun kadang mereka nakal, bandel, dan sulit dikasihi. Setiap anak berharga di mata Tuhan. Kasih Tuhan memungkinkan kita untuk mau berkorban dan terus mengasihi dengan kasih yang tanpa pamrih karena pelayanan kita didorong oleh motivasi yang benar, yaitu mengasihi Tuhan dan anak-anak didik kita.
6.    Memiliki hati yang beriman (Amsal 3:2; 2 Timotius 1:12). Guru SM harus senantiasa bersandar pada Tuhan dan bukan pada kekuatan sendiri. Ingatlah semua kekuatan kita datangnya dari Dia yang memberinya dengan berkelimpahan.
7.    Memiliki hati yang mau diajar (Yesaya 50:4; 1Timotius 4:6). Sebelum Guru SM melayani dan mengajar anak-anak, mereka harus terlebih dahulu mau belajar dan dilatih dengan pokok-pokok kebenaran firman tuhan. Guru yang baik adalah juga murid yang baik dalam kebenaran. Oleh karena itu, seorang guru harus rendah hati bersedia dikritik dan ditegur supaya ia bisa terus lebih baik.
8.    Memiliki hati yang suci (1 Petrus 1:15; 1 Timotius 4:12). Hidup suci adalah modal utama bagi seorang pelayan Tuhan yang ingin memberikan teladan hidup yang benar dan berkenan kepada tuhan. Seorang pelayan tuhan tidak akan membiarkan hidupnya dikotori oleh kebiasaan buruk dan perbuatan-perbuatan dosa yang akan mempermalukan nama Tuhan.





C.           Kewajiban dan Tanggung Jawab dalam Memegang Pelayanan Guru SM
Seorang guru SM baru dapat disebut guru yang baik apabila dia dengan sepenuh hati mau melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya. Ada tujuh hal yang dituntut dari seorang guru SM.
1.    Mengajajr (teaching)-1 Timotius 2:7
Yang disebut “mengajar” adalah suatu proses belajar-mengajar (Teaching-Learning Proccess). Di dalam proses belajar mengajar ini. Guru harus dapat mewujudkan perubahan dalam diri murid, baik perubahan dalam pengetahuan, pemikiran maupun sikap dan tingkah laku. Melalui Alkitab paulus menyebutkan, dalam kehidupannya sebagai pengajar, ia menjadi alat Roh Kudus untuk mewujudkan perubahan atas diri orang lain: yang tadinya tidak percaya menjadi percaya; yang tadinya tidak memahami kebenaran menjadi memahami kebenaran; yang tadinya menentang sekarang taat.
2.    Mengembalakan (shepherding)—Yehezkiel 34:2-6; Yohanes 10:11-18
Nabi Yehezkiel menegur gembala pada zaman itu yang tidak menunaikan kewajibannya dengan baik. Berbeda dengan yang kita lihat dalam Tuhan Yesus, seorang gembala yang baik itu. Guru SM harus meneladani Yesus dalam mengembalakan domba-domba kecil-Nya. Seorang gembala mempunyai hati yang rela berkorban. Meskipun menghadapi kesulitan, Ia tidak akan meninggalkan dan membiarkan domba-dombanya sendirian; ia juga mengenal setiap dombanya, bahkan membawa domba yang masih berada di luar untuk masuk ke dalam kandangnya; ia pun wajib menyediakan makanan rohani untuk kebtuhan dombanya, termasuk kebutuhan intelektual, emosi dan mental.
3.    Kebapaan (Fathering)—1 Korintus 4:15
 berkata, “sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam kristus Yesus, kamu tidak mempunyai banyak bapak. Karena akulah yang dalam kristus telah mennjadi Bapakmu oleh injil yang ku beritakan kepadamu.” Banayk guru yang dapat member nasehat dan menegur, namun sedikit di antara mereka yang dapat merangkul, membesarkan, dan mendidik murid-muridnya dalam injil. Seorang guru bukan hanya dapat menggurui, tapi juga dapat membagikan hati dan hidupnya sebagai seorang bapa yang mengasihi anaknya.

4.    Memberikan teladan (Modeling)—1 Korintus 11:1; Filipi 3:17; 1Tesalonika 1:5-6; 2 Tesalonika 3:7; 1 Timotius 4:11-13
Paulus, selaku guru, sangat berani menuntun orang-orang Kristen untuk meneladaninya sebagaimana ia telah meneladani kristus. Paulus menasihati Timotius, “ jangan pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jasdilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” Seorang guru akan mempunyai pengaruh yang amat besar terhadap muridnya apabila ia teru member masukan positif yang dapat ditiru, baik daslam cara berpikir maupun tutur katanya. Oleh karena itu, seorang guru perlu selalu memerhatikan dirinya sendiri apakah ia patut menjadi teladan yang baik bagi muridnya.
5.    Menginjil (Evangelizing)—1 Timotius 2:7
Selaku guru, paulus mengajar orang untuk memercayai Kristus sebagai sasaran utamanya. Demikian juga seharusnya seorang guru SM. Mengajar bukan hanya mengisi murid dengan kebenaran yang bersifat kognitif saja, tetapi tertama mengisi kebutuhan jiwa mereka dengan kasih dan iman yang menyelamatkan. Karena itu, baawlah anak-anak didik untuk mendengarkan berita injil supaya keselamatan sampai kepada jiwa mereka.
6.    Mendoakan(Praying)—2 Tesalonika 1:11-12
Kewajiban lain dari seorang guru SM adalah mendoakan muridnya satu per satu dengan menyebutkan nama dan kebutuhan mereka masing-masing. Yakinkan bahwa Anda cukup dekat dengan mereka sehingga tahu apa yang harus didoakan; apakah itu untuk keluarganya, sekolahnya, atauu lingkungan masyarakat tempat pergaulan mereka, dan lain-lain. Mereka sangat membutuhkan pertolongan Allah dan Andalah yang akan ikut memperjuangkannya.
7.    Meraih Kesempatan (Catching)—2 Timoius 4:2
Satu hal penting lain yang haarus dipenuhi oleh guru SM adalah meraih kesempatan. Manusia di dunia ini tidak hidup dalam kekekalan. Kesempatan sering datang hanya sekejap dan dalam waktu yang tidak diduga. Bila guru SM dapat memanfaatkannya, walaupun mungkin hanya dengan  sepatah kata atau satu sikap, mungkin juga dengan satu doa syafaat, hal ini dapat memberikan pengaruh kekal bagi murid-muridnya. “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran”.

D.           Tantangan dalam Pelayanan Guru Sekolah Minggu
Para pelayan anak, khususnya yang ada di kota besar, sering dihadapkan pada situasi yang leih rumit, tidak semua anak yang dilayani adalah anak-anak yang ceria, polos, dan haus untuk belajar. Tidak jarang dari meraka datang dari lingkungan yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang. Banyak di antara mereka yang menjadi korban kejahatan orang dewasa dan lingkungan sekitarnya.
Tantangan lain yang sering muncul justru dari gereja sendiri. Banyak gereja yang belum member perhatian serius terhadap pelayanan anak. Pelayanan anak seringkali hanya berfungsi sebagai tempat penitipan anak selgi orang tua mereka ada dalam kebaktian gereja. Gereja juga sering tidak memasukan pelayanan anak sebagai bagian dari program gereja. Pada kenyataannya, anak-anak jemaat sebenarnya adalah generasi jemaat masa depan gereja. Oleh karena itu, jika gereja tidak memberika perhatian kepada pelayanan anak, gereja akan menghadapi masa depan yang suram.

E.            Menangani Tantangan dalam Pelayanan Guru Sekolah Minggu
Untuk dapat menangani tantangan dalam pelayanan sekolah minggu, suatu gereja perlu membuat program yang berkaitan dengan Ibadah Anak Sekolah Minggu. Seperti halnya di GSJA BATU KARANG, telah dibuat suatu pelayanan yang dikhususkan untuk Ibadah sekolah minggu yang waktunya berbeda dengan ibadah umum agar para orang tua bukan hanya sekedar menitipkan anaknya ketika mereka sedang beribadah melainkan memang memberi kesempatan bagi pelayanan Guru SM untuk dapat mengajarkan anaknya tentang kebenaran-kebenaran Firman Tuhan.
Adapun Program yang sudah dibuat adalah pelayanan yang dibagi menjadi 3 kelas diantaranya :
1.      Kelas Imanuel (Anak balita yang masih belum menginjak sekolah SD)
·         Ciri khas secara Jasmani
-  Pertumbuhan jasmani berjalan dengan cepat, aktif bergerak, berusaha memperoleh keterampilan otot.
·         Ciri khas secara Jiwani
-  Belajar melalui meniru, ingin tahu besar, fantasi kuat, emosional mudah marah, ada rasa takut, suasana hati gembira, dan ingin mengasihi, sejak usia tiga tahun mempunyai konsep pribadi sifatnya, konsep berkembang dari yang khusus ke umum, konsep pemikirannya banyak dipengaruhi perasaan
·         Ciri Khas Secara Sosial
-   Ada sikap negativistis, suka menirukan, muncul persaingan, suka bertengkar, egoistis
·         Rohani
-  Tuhan dikenal melalui bahasa dan konsep tentang Tuhan diperoleh dari keluarga khususnya orangtua.Tuhan itu baik atau jahat tergantung penghayatan anak terhadap orangtuanya khususnya ayah.
2.      Kelas Pratama (Anak yang berumur 6-8 Tahun)
·         Ciri khas secara jasmani
-  Secara jasmani terus bertumbuh, tapi kecepatannya semakin melambat. Mereka masih menyukai berbagai aktivitas yang membutuhkan banyak gerak, seperti: berlari, melompat, dan berjalan.
-  Menguasai beberapa keterampilan, seperti: menulis, melipat, menganyam, mengukir, dam membuat simpul dengan tali.
-   Akan merasa cepat letih, sehingga perlu istirahat yang cukup. Akivitas belajar dan bermain harus seimbang.
·         Ciri khas secara mental
-   Daya khayal sangat kuat, masih sulit membedakan apa yang sungguh(nyata) dan apa yang khayal.
-   Masih berpikir secara harafiah dan belum dapat menerima hal-hal yang abstrak. Menggunakan alat peraga akan sangat baik untuk membantu pemahaman mereka.
-   Kemampuan membaca semakin bertambah baik.
-   Memiliki daya ingat yang sangat baik, untuk itu doronglah mereka menghafal ayat-ayat Alkitab yang dipahami dalam konteksnya.
-   Selalu bertanya “mengapa”, karena it guru haus bisa member jawaban yang bisa dimengerti mereka dan masuk akal dan tidak mematikan kreatifitas mereka untuk bertanya dan berpikir
·         Ciri khas secara emosi
-   Suka melamun tentang kesenangan, hiburan dan pretise pribadi sehingga sering dituduh berbohong.
-   Perasaan takut masih sering mengganggu pikiran mereka, khususnya film, gambar, atau cerita yang menakutkan.
·         Ciri khas secara sosial
-   Mudah bergaul dan dapat terlibat dalam berbagai aktivitas/permainan kelompok.
-   Suka mengambil hati orang dewasa.
-   Suka bekerja sama dan kurang suka berkompetisi.
-   Suka bertengkar bila berkumpul dengan teman, dan tidak suka bila harus bermain secara bergiliran.
-   Mulai sadar akan perbedaan berdasarkan jenis kelamin.
·         Ciri khas secara rohani
-   Imannya murni dan menaruh minat terhadap kebenaran.
-   Dapat berdoa dengan kata-kata sendiri secara spontan.
-   Pada umumnya suka pergi ke Sekolah Minggu.
-   Semua pengalaman rohaninya adalah meniru tingkah laku dan teladan orang dewasa.
3.      Kelas Madya (Anak yang berumur 9-11 tahun atau kelas 4,5,6 SD)
·         Ciri khas secara jasmani
-   Keadaan kesehatan cukup baik, sudah tidak mudah terserang penyakit, memiliki selera makan besar. Kegiatan outdoor sangat cocok untuk mereka.
-   Aktif dan penuh semangat, senang melakukan kegiatan yang sulit dan bersifat menantang.
-   Pertumbuhan fisik dan psikologi anak perempuan pada umumnya lebih cepat daripada anak laki-laki.
·         Ciri khas secara mental
-   Suka mengoleksi benda-benda seperti perangko, gambar, stiker, dan benda-benda kecil lainnya.
-   Daya kreativitas mereka tinggi.
-   Mulai bisa berfikir secara logis.
-   Memiliki daya ingat yang tajam dan baik.
-   Gemar akan berbagai macam bacaan.
-   Perbedaan keterampilan, kekuatan, kelemahan pribadi mulai terlihat jelas.
·         Ciri khas secara Emosi
-   Suka humor.
-   Kadang-kadang memiliki perasaan yang tersembunyi, namun mereka sudah bisa mengendalikan diri (dan menutp-nutupi), sehingga sering berpura-pura.
·         Ciri khas secara sosial
-   Anak-anak madya lebih suka bergaul dengan teman sebayanya disbanding dengan orang tua maupun gurunya.
-   Suka bergaul dengan teman sejenis dan ada kecenderungan untuk “anti” dengan lawan jenis.
-   Setia pada kelompoknya dam menganggap kelompoknya sebagai sesuatu yang istimewa.
-   Semangat berkompetisi tinggi sekali.
-   Suka bergurau, termasuk mungkin menertawakan orang lain.
·         Ciri khas secara rohani
-   Sudah memahami konsep keselamatan rohani.
-   Memuja tokoh-tokoh pahlawan/idola.
-   Masa ini mulai terbentuk kebiasaan yang baik, seperti membaca dam menggali Alkitab, berdoa, melakukan saat teduh, serta bersaksi.
-   Dapat menerima pengajaran Alkitab yang agak mendalam.
-   Memperhatikan keselamatan jiwa orang lain.
-   Keadilan dan kasih sayang merupakan dua hal yang sangat ampuh untuk menenangkan hati anak-anak usia ini. Mereka sangat kagum degan orang-orang yang memiliki prinsip hidup yang tegas yang dapat membimbing mereka ke dalam kebenaran.
Dan bukan hanya itu, di GSJA BATU KARANG pun mengadakan suatu pelatihan guru-guru sekolah minggu, yang kegiatan ini bisa diikuti oleh siapapun tanpa memandang status sosial atau tingkat pendidikan. Syarat yang mutlak untuk bisa mengikuti pelatihan Guru-guru sekolah minggu ini adalah mereka yang sudah bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
Kegiatan ini bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan guru sekolah minggu tentang firman Allah yang hidup, karena iman tidak bisa tumbuh dengan sendiriya, melainkan harus ada usaha untuk belajar Alkitab. Iman bisa timbul dari pendengaran, artinya mendengar, belajar dam melakukan dalam penghidupan sehari-hari, dan dengan adanya pelatihan guru sekolah minggu ini akan dapat meningkatkan dan memajukan pelayanan Guru Sekolah Minggu.












BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
       Pelayanan guru sekolah minggu dalam gereja merupakan hal yang penting dan harus ada di dalam gereja karena pada masa anak-anak adalah masa yang paling banyak diingat dan membekas paling lama dibandingkan dengan masa-masa umur yang lain, anak-anak paling banyak belajar, memiliki rasa ingin tau yang cukup tinggi dan juga pada masa anak-anak adalah masa pembentukan yang paling mudah. Dunia anak-anak adalah dunia yang penuh kepolosan karena hati mereka masih jujur dan bersih, belum banyak dicemari oleh dosa yang jahat, kebiasaan-kebiasaan buruk belum terbentuk. Oleh karena itu, jika anak-anak mendapat penggajaran yang baik dimasa kecil maka hidup masa dewasanya akan jauh lebih mudah dibentuk. Pelayanan guru sekolah minggulah yang dapat menjadi perantara untuk meberikan pendidikan itu semua selain didalam keluarga maupun di sekolah, maka suatu pelayanan guru sekolah minggu juga dapat mempengaruhi masa depan anak-anak Tuhan, karena pada kenyataannya anak-anaklah yang akan menjadi generasi penerus masa depan Gereja.

Saran
Sebaiknya disetiap gereja memiliki program kegiatan anak sekolah minggu agar dapat memajukan gereja itu sendiri dan sebagai bekal pengetahuan agama dimasa mendatang. Semoga makalah ini dapa dipergunakan sebagaimana mestinya dan menjadi pembelajaran bagi pembaca agar dapat menambah ilmu pengertahuannya tentang Pelayanan Guru Sekolah Minggu dan semoga pembaca tidak kecewa dengan membaca makalah ini.




                                                                                                                                         

DAFTAR PUSTAKA
-            Alkitab
-            Buku Bahan Materi Pelatihan guru-guru Sekolah Minggu