MAKALAH AGAMA KRISTEN
TENTANG
PELAYANAN GURU SEKOLAH MINGGU
|
FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mempelajari
apa yang Alkitab katakan tentang anak-anak dan juga melalui sejarah Pelayanan
Sekolah Minggu, kita dapat menarik prinsip-prinsip tentang pentingnya gereja
mendidik anak-anak dengan pokok-pokok iman Kristen.
Pelayanan Anak Masa Perjanjian Lama ( Ulangan 6:4-7 ) kalau
kita menelusuri kembali zaman perjanjian lama, maka sebenarnya Alkitab telah
memberikan perhatian yang serius terhadap pembinaan rohani anak. Pada masa itu
pembinaan rohani anak dilakukan sepenuhnya dalam keluarga ( Ulangan 6:4-7 ).
Sejak sebelum usia lima tahun anak telah dididik oleh orang tuanya untuk
mengenal Allah Yahweh. Pada masa pembuangan di babilonia (500 SM), ketika tuhan
menggerakan Ezra dan para ahli kitab untuk membangkitkn kembali kecintaan
bangsa Israel kepada Taurat Tuhan, maka dibukalah tempat ibadah sinagoge dimana
mereka dapat belajar firman Tuhan kembali, termasuk diantaara mereka adalah
anak-anak kecil. Orang tua wajib mengirimkan anak-anaknya yang berusia dibawah
lima tahun ke Sinagoge. Disana mereka dididik oleh Guru-guru sukarelawan yang
mahir dalam kitab Taurat. Anak-anak dikelompokan dengan jumlah maksimum 25
orang dan dibimbing untuk aktif berpikir dan bertanya, sedangkan guru menjadi
fasilitator yang selalu siap sedia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
Pelayanan Anak Masa Perjanjian Baru ( 1 Timotius 3:15 ) Ketika
orang-orang yahudi yang dibuang di babilonia diizinkan pulang ke palestina,
mereka meneruskan tradisi membuka tempat ibadah Sinagoge ini di palestina sampai
masa Perjanjian Baru. Sebagaimana anak-anak Yahudi yang lain, ketika masih
kecil Tuhan Yesus juga menerima pengajaran Taurat di Sinagoge. Dan pada usia
dua belas tahun Yesus sanggup bertanya dengan para ahli Taurat di Bait Allah.
Tradisi mendidik anak-anak secar ketat terus berlangsung sampai pada masa
rasul-rasul ( 1 timotius 3:15 ) dan gereja mula-mula. Namun, tepat untuk
mendidik anakperlahan-lahan tidak lagi dipusatkan di Sinagoge tetapi di gereja,
tempat jemaat Tuhan berkumpul. Tetapi sayang sekali pada abab pertengahan
gereja tidak lagi memelihara kebiasaan mendidik anak seperti abad-abad
sebelumnya. Bahkan orang dewasa pun tidak lagi mendapatkan pengajaran firman Tuhan dengan
baik. Barulah saat reformasi, gerakan pengembalian kepada pengejaran Alkitab dibangkitkan lagi,
dan pendidikan terhadap anak-anak mulai digalakkan kembali, khususnya melalui
kelas katekismus (kateksasi). Untuk itu, hanya para pekerja gereja sajalah yang
diizinkan untuk terlibat dalam pembinaan. Namun, kurangya orang terlatih untuk
mengajarkan kelas Katekismus menyebabkan pelayanan anak menjadi mundur bahkan
perlahan-lahan tidak lagi menjadi perhatian utama gereja dan diadakan hanya
sebagai prasyarat bagi anak-anak yang akan menerima konfirmasi (baptis sidi).
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam Makalah ini yang berjudul
“Pelayanan Guru Sekolah Minggu” adalah antara lain:
1.
Bagaimana
sekolah minggu dapat berbentuk?
2.
Syarat
apa yang dibutuhkan untuk menjadi Pelayan Guru Sekolah Minggu?
3.
Kewajiban
dan tanggung jawab apa yang harus dimiliki Pelayan Guru Sekolah Minggu?
4.
Kendala
apa yang dihadapi dalam menjadi Pelayan Guru Sekolah Minggu?
5.
Bagaimana
Pelayanan Guru Sekolah Minggu di GSJA BATU KARANG?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan dari makalah ini yang
berjuudul “Pelayanan Guru Sekolah Minggu” yaitu
1.
Untuk
mengetahui kapan sekolah minggu sudah mulai terbentuk.
2.
Untuk
mengetahui Syarat apa sajakah yang harus dimiliki oleh Pelayan Guru Sekolah
Minggu.
3.
Untuk
mengetahui apa saja Kewajiban dan tanggung jawab dalam memenang Pelayanan Guru
Sekolah Minggu.
4.
Untuk
mengetahui apa saja tantangan menjadi Guru Sekolah Minggu
5.
Untuk
mengetahui bagaimana Pelayanan Guru Sekolah Minggu di GSJA BATU KARANG
D. Metode Perolehan Data
Metode perolehan data ini penulis dapatkan dari metode tidak langsung atau dengan cara
mencari lewat internet dan buku-buku yang berhubungan dengan Makalah yang
penulis buat.
Sumber-sumber yang antara
lain didapat dari Alkitab dan Buku Bahan Materi Pelatihan Guru-guru Sekolah
Minggu
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Sekolah Minggu
Pada abad 18, seorang wartawan inggris bernama
Robert Raikes, digerakan oleh rasa cinta kepada anak-anak, membuat suatu
gerakan yang akhirnya mendorong lahirnya Pelatihan Sekolah Minggu.
Pada masa akhir abad 18, inggris
sedang dilanda suatu krisis ekonomi yang sangat parah. Setiap orang bekerja
keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan anak-anak dipaksa bekerja untuk
bisa mendapatkan penghidupan yang layak. Pada saat itu, wartawan Robert Raikes
mendapat tugas untuk meliput berita tentang anak-anak gelandangan di Gloucester
bagi sebuah harian (Koran) milik ayahnya, apa yang dilihat Robert sangat
memprihatinkan sebab anak-anak gelandangan itu harus bekerja dari hari Senin
sampai Sabtu. Apa yang dilakukan anak-anak pada hahri Minggu itu? Hari minggu
adalah satu-satunya hari libur bagi mereka yang dihabiskan untuk
bersenang-senang. Tapi karena mereka tidak pernah mendapat pendidikan (karena
tidak bersekolah), anak-anak itu menjadi sangat liar. Mereka minum-minum dan
melakukan berbagai macam kenakalan dan kejahatan.
Melihat keadaan itu Robert Raikes
bertekat untuk mengubah keadaan. Ia dengan beberapa teman mencoba melakukan
pendekatan kepada anak-anak tersebut dengan mengundang mereka berkumpul di
sebuah dapur milik Ibu Meredith di kota Scooty Alley. Selain mendapat makanan,
di sana mereka juga diajarkan sopan santun termasuk membaca dan menulis. Tapi
hal yang paling indah yang diterimaanak-anak disitu adalah mereka mendapat
kesempatan mendengar cerita-cerita alkitab. Pada mulanya pelayanan ini sangat
tidak mudah. Banyak anak yang datang dalam keadaan yang sangat kotor dan
berbau. Namun, dengan cara mendidik yang disiplin, kadang dengan pukulan rotan
yang dilakukan dengan penuh cinta kasih, anak-anak itu akhirnya belajar untuk
mau dididik dengan baik, sehingga semakin lama semakin banyak anak yang datang
kedapur Ibu Meredith. Semakin banyak juga gur yang disewa untuk mengajar
mereka, bukan hanya untuk belajar membaca dan menulis tetapi juga Firman Tuhan,
perjuangan yang sangat sulit tapi melegakan. Dalam waktu empat tahun sekolah
yang diadaskan pada hari Minggu itu semakin berkembang bahkan kekota-kota lain
di inggris. Dan jumlah anak-anak yang datang ke sekolah hari minggu terhitung
mencapai 250.000 anak di seluruh inggris.
Mula-mula, gereja tidak mengakui
kehadiran gerakan Sekolah Minggu yang dimulai oleh Robert Raikes ini. Tetapi
karena kegigihannya menulis ke berbagai publikasi dan membagikan visi pelayanan
anak ke masyarakat di Inggris, dan juga atas bantuan John Wesley (pendiri
gereja Methodis), akhirnya kehadiran sekolah minggu diterima oleh gereja.
Mula-mula hanya orang gereja Methodis, namun akhirnya juga oleh gereja-gereja
protestan lain. Ketika Robert Raikes meninggal dunia tahun 1811, jumlah anak
yang hadir di Sekolah Minggu diseluruh inggris mencapai lebih dari 400.000
anak. Dari pelayanan anak ini, inggris tidak hanya diselamatkan dari revolusi
sosial, tapi juga diselamatkan dari generasi yang tidak mengenal Tuhan.
Gerakan Sekolah Minggu
yang dimulai di inggris ini akhirnya menjalar ke berbagai tempat di dunia,
termasuk negara-negara Eropa lainnya dank ke Amerika. Dan dari para misionaris
yang pergi melayani ke negara-negara Asia, akhirnya pelayanan anak melalui
Sekolah Minggu juga hadir di Indonesia.
B.
Syarat menjadi Pelayan Guru Sekolah
Minggu
Ada satu anggapan keliru
yang beredar di kalangan masyarakat Kristen, yang mengatakan bahwa siapa saja
bisa menjadi pelayan Tuhan. Karena Tuhan itu Maha kasih, Ia pasti mau menerima
siapa saja untuk melayani Dia. Memang benar bahwa Tuhan tidak memilih orang
berdasaikan kepandaiannya, kebaikannya, atau kemampuannya saja. Namun demikian
ini tidak boleh diartikan bahwa orang yang melayani Tuhan tidak perlu belajar
keras, tidak perlu berusaha memberikan yang terbaik dan tidak perlu menjadi
pandai. Mari kita renungkan ayat-ayat berikut ini.
“janganlah banyak orang di antara kamu
mau menjadi guru; sebab kita tau, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut
ukuran yang lebih berat.”(Yakobus 3:1)
“seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus
ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan lemah lembut
menuntun orang yang suka melawan,” (2 Timotius 2:24)
“Mereka (diaken/pelayan Tuhan) juga harus diuji dahulu,
baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat.” (1
Timotius 3:10)
“Sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat
(pelayan Tuhan) harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan
peminum, bukan pemarah, tidak serakah…” (Titus 1:7)
sebagian ayat-ayat Alkitab
di atas kita mengetahui bahwa Tuhan memiliki tuntutan yang cukup tinggi bagi
mereka yang ingin melayani-Nya. Demikian juga untuk gru-guru SM, yang adalah
hamba-hamba Tuhan. Di atas bahu guru SM tergantung masa depan generasi penerus
jemaat/gereja Tuhan. Jika Tuhan telah memanggil Anda untk menjadi guru SM,
Tuhan berhak membentuk dan memperlengkapi Anda dengan kemampuan yang sesuai
dengan penggilan yang telah Ia berikan. Tapi ini semua merupakan proses sehingga
tidak berarti Anda harus sudah memiliki semua kemampuan terlebih dahulu baru
boleh menjadi guru SM. Roh Kudus akan terus-menerus memimpin hidup kita supaya
hidup kita semakin hari menjadi semakin sempurna seperti Kristus.
Secara ideal, berikut syarat-syarat
dasar yang harus dimiliki oleh pelayan guru SM:
1.
Memiliki
hari yang baru (Yohanes 3:3; 1 Korintus 2:14; 2 Korintus 5:17). Guru sekolah
minggu haruslah seorang yang rohnya telah diperbarui oleh Roh Kudus atau sudah
lahir baru. Guru sekolah minggu yang mengenal Tuhan Yesus secara pribadi dan
sungguh-sungguh mengalami kasih-Nya yang luar biasa akan dapat dengan mudah
menceritakan anak-anak yang dilayaninya siapakah Yesus yang sesungguhnya.
2.
Memiliki
hati yang lapar (1 Petrus 2:2; Yohanes 6:35). Guru sekolah minggu haruslah
seorang yang rindu memiliki hati yang selalu lapar dan haus akan firman Tuhan.
Dari persekutuannya dengan firman Tuhan, guru bertumbuh dan siap menjadi berkat
karena hidupnya adalah seperti aliran air yang tidak pernah kering.
3.
Memiliki
hati yang taat (Filipi 1:21-22; Galatia 2:20-21). Hidup seorang guru SM adalah
milik kristus. Karena itu, hidupnya adalah hidup yang taat sebagai hamba yang
setia dan rela menjalankan apa yang dikehendaki oleh Tuannya.
4.
Memiliki
hati yang disiplin (Roma 12:11; 2 Korintus 4:8). Guru SM harus bergumul untuk
memiliki hati yang disiplin dan tidak tergoyahkan karena kesulitan. Guru juga
harus berani memaksakan diri untuk tidak hanyut dalam kejenuhan karena
rutinitas belajar dan mengajar. Hati yang disiplin akan menolong kita untuk
senantiasa melayani secara konsisten, berapi-api, dan terus memberikan
kemajuan.
5.
Memiliki
hati yang mengasihi (Yohanes 3:16; efesus 4:1-2). Guru SM yang telah mengalami
kasih Tuhan akan sanggup mengasihi anak-anak didiknya, sekalipun kadang mereka
nakal, bandel, dan sulit dikasihi. Setiap anak berharga di mata Tuhan. Kasih
Tuhan memungkinkan kita untuk mau berkorban dan terus mengasihi dengan kasih
yang tanpa pamrih karena pelayanan kita didorong oleh motivasi yang benar,
yaitu mengasihi Tuhan dan anak-anak didik kita.
6.
Memiliki
hati yang beriman (Amsal 3:2; 2 Timotius 1:12). Guru SM harus senantiasa
bersandar pada Tuhan dan bukan pada kekuatan sendiri. Ingatlah semua kekuatan
kita datangnya dari Dia yang memberinya dengan berkelimpahan.
7.
Memiliki
hati yang mau diajar (Yesaya 50:4; 1Timotius 4:6). Sebelum Guru SM melayani dan
mengajar anak-anak, mereka harus terlebih dahulu mau belajar dan dilatih dengan
pokok-pokok kebenaran firman tuhan. Guru yang baik adalah juga murid yang baik
dalam kebenaran. Oleh karena itu, seorang guru harus rendah hati bersedia
dikritik dan ditegur supaya ia bisa terus lebih baik.
8.
Memiliki
hati yang suci (1 Petrus 1:15; 1 Timotius 4:12). Hidup suci adalah modal utama
bagi seorang pelayan Tuhan yang ingin memberikan teladan hidup yang benar dan
berkenan kepada tuhan. Seorang pelayan tuhan tidak akan membiarkan hidupnya
dikotori oleh kebiasaan buruk dan perbuatan-perbuatan dosa yang akan
mempermalukan nama Tuhan.
C.
Kewajiban dan Tanggung Jawab dalam
Memegang Pelayanan Guru SM
Seorang guru SM baru dapat disebut
guru yang baik apabila dia dengan sepenuh hati mau melaksanakan kewajiban dan
tanggung jawabnya. Ada tujuh hal yang dituntut dari seorang guru SM.
1.
Mengajajr
(teaching)-1 Timotius 2:7
Yang disebut “mengajar” adalah suatu proses
belajar-mengajar (Teaching-Learning Proccess). Di dalam proses belajar mengajar
ini. Guru harus dapat mewujudkan perubahan dalam diri murid, baik perubahan
dalam pengetahuan, pemikiran maupun sikap dan tingkah laku. Melalui Alkitab paulus
menyebutkan, dalam kehidupannya sebagai pengajar, ia menjadi alat Roh Kudus
untuk mewujudkan perubahan atas diri orang lain: yang tadinya tidak percaya
menjadi percaya; yang tadinya tidak memahami kebenaran menjadi memahami
kebenaran; yang tadinya menentang sekarang taat.
2.
Mengembalakan
(shepherding)—Yehezkiel 34:2-6; Yohanes 10:11-18
Nabi Yehezkiel menegur gembala pada zaman itu yang tidak
menunaikan kewajibannya dengan baik. Berbeda dengan yang kita lihat dalam Tuhan
Yesus, seorang gembala yang baik itu. Guru SM harus meneladani Yesus dalam
mengembalakan domba-domba kecil-Nya. Seorang gembala mempunyai hati yang rela
berkorban. Meskipun menghadapi kesulitan, Ia tidak akan meninggalkan dan
membiarkan domba-dombanya sendirian; ia juga mengenal setiap dombanya, bahkan
membawa domba yang masih berada di luar untuk masuk ke dalam kandangnya; ia pun
wajib menyediakan makanan rohani untuk kebtuhan dombanya, termasuk kebutuhan
intelektual, emosi dan mental.
3.
Kebapaan
(Fathering)—1 Korintus 4:15
berkata, “sebab
sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam kristus Yesus, kamu tidak
mempunyai banyak bapak. Karena akulah yang dalam kristus telah mennjadi Bapakmu
oleh injil yang ku beritakan kepadamu.” Banayk guru yang dapat member nasehat
dan menegur, namun sedikit di antara mereka yang dapat merangkul, membesarkan,
dan mendidik murid-muridnya dalam injil. Seorang guru bukan hanya dapat
menggurui, tapi juga dapat membagikan hati dan hidupnya sebagai seorang bapa
yang mengasihi anaknya.
4.
Memberikan
teladan (Modeling)—1 Korintus 11:1; Filipi 3:17; 1Tesalonika 1:5-6; 2
Tesalonika 3:7; 1 Timotius 4:11-13
Paulus, selaku guru, sangat berani menuntun orang-orang
Kristen untuk meneladaninya sebagaimana ia telah meneladani kristus. Paulus
menasihati Timotius, “ jangan pun menganggap engkau rendah karena engkau muda.
Jasdilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah
lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” Seorang guru
akan mempunyai pengaruh yang amat besar terhadap muridnya apabila ia teru
member masukan positif yang dapat ditiru, baik daslam cara berpikir maupun
tutur katanya. Oleh karena itu, seorang guru perlu selalu memerhatikan dirinya
sendiri apakah ia patut menjadi teladan yang baik bagi muridnya.
5.
Menginjil
(Evangelizing)—1 Timotius 2:7
Selaku guru, paulus mengajar orang untuk memercayai
Kristus sebagai sasaran utamanya. Demikian juga seharusnya seorang guru SM.
Mengajar bukan hanya mengisi murid dengan kebenaran yang bersifat kognitif
saja, tetapi tertama mengisi kebutuhan jiwa mereka dengan kasih dan iman yang
menyelamatkan. Karena itu, baawlah anak-anak didik untuk mendengarkan berita
injil supaya keselamatan sampai kepada jiwa mereka.
6.
Mendoakan(Praying)—2
Tesalonika 1:11-12
Kewajiban lain dari seorang guru SM adalah mendoakan
muridnya satu per satu dengan menyebutkan nama dan kebutuhan mereka
masing-masing. Yakinkan bahwa Anda cukup dekat dengan mereka sehingga tahu apa
yang harus didoakan; apakah itu untuk keluarganya, sekolahnya, atauu lingkungan
masyarakat tempat pergaulan mereka, dan lain-lain. Mereka sangat membutuhkan
pertolongan Allah dan Andalah yang akan ikut memperjuangkannya.
7.
Meraih
Kesempatan (Catching)—2 Timoius 4:2
Satu hal penting lain yang haarus
dipenuhi oleh guru SM adalah meraih kesempatan. Manusia di dunia ini tidak
hidup dalam kekekalan. Kesempatan sering datang hanya sekejap dan dalam waktu
yang tidak diduga. Bila guru SM dapat memanfaatkannya, walaupun mungkin hanya
dengan sepatah kata atau satu sikap,
mungkin juga dengan satu doa syafaat, hal ini dapat memberikan pengaruh kekal
bagi murid-muridnya. “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik
waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala
kesabaran dan pengajaran”.
D.
Tantangan dalam Pelayanan Guru Sekolah
Minggu
Para pelayan anak, khususnya yang ada
di kota besar, sering dihadapkan pada situasi yang leih rumit, tidak semua anak
yang dilayani adalah anak-anak yang ceria, polos, dan haus untuk belajar. Tidak
jarang dari meraka datang dari lingkungan yang kurang mendapat perhatian dan
kasih sayang. Banyak di antara mereka yang menjadi korban kejahatan orang
dewasa dan lingkungan sekitarnya.
Tantangan lain yang sering
muncul justru dari gereja sendiri. Banyak gereja yang belum member perhatian
serius terhadap pelayanan anak. Pelayanan anak seringkali hanya berfungsi
sebagai tempat penitipan anak selgi orang tua mereka ada dalam kebaktian
gereja. Gereja juga sering tidak memasukan pelayanan anak sebagai bagian dari
program gereja. Pada kenyataannya, anak-anak jemaat sebenarnya adalah generasi
jemaat masa depan gereja. Oleh karena itu, jika gereja tidak memberika
perhatian kepada pelayanan anak, gereja akan menghadapi masa depan yang suram.
E.
Menangani Tantangan dalam Pelayanan
Guru Sekolah Minggu
Untuk
dapat menangani tantangan dalam pelayanan sekolah minggu, suatu gereja perlu
membuat program yang berkaitan dengan Ibadah Anak Sekolah Minggu. Seperti
halnya di GSJA BATU KARANG, telah dibuat suatu pelayanan yang dikhususkan untuk
Ibadah sekolah minggu yang waktunya berbeda dengan ibadah umum agar para orang
tua bukan hanya sekedar menitipkan anaknya ketika mereka sedang beribadah
melainkan memang memberi kesempatan bagi pelayanan Guru SM untuk dapat
mengajarkan anaknya tentang kebenaran-kebenaran Firman Tuhan.
Adapun Program yang sudah dibuat
adalah pelayanan yang dibagi menjadi 3 kelas diantaranya :
1.
Kelas
Imanuel (Anak balita yang masih belum menginjak sekolah SD)
·
Ciri khas secara Jasmani
-
Pertumbuhan jasmani berjalan dengan
cepat, aktif bergerak, berusaha memperoleh keterampilan otot.
·
Ciri khas secara Jiwani
-
Belajar melalui meniru, ingin tahu
besar, fantasi kuat, emosional mudah marah, ada rasa takut, suasana hati
gembira, dan ingin mengasihi, sejak usia tiga tahun mempunyai konsep pribadi
sifatnya, konsep berkembang dari yang khusus ke umum, konsep pemikirannya
banyak dipengaruhi perasaan
·
Ciri Khas Secara Sosial
-
Ada sikap negativistis, suka menirukan, muncul
persaingan, suka bertengkar, egoistis
·
Rohani
-
Tuhan dikenal melalui bahasa dan
konsep tentang Tuhan diperoleh dari keluarga khususnya orangtua.Tuhan itu baik
atau jahat tergantung penghayatan anak terhadap orangtuanya khususnya ayah.
2.
Kelas
Pratama (Anak yang berumur 6-8 Tahun)
·
Ciri
khas secara jasmani
-
Secara
jasmani terus bertumbuh, tapi kecepatannya semakin melambat. Mereka masih
menyukai berbagai aktivitas yang membutuhkan banyak gerak, seperti: berlari,
melompat, dan berjalan.
-
Menguasai
beberapa keterampilan, seperti: menulis, melipat, menganyam, mengukir, dam
membuat simpul dengan tali.
-
Akan
merasa cepat letih, sehingga perlu istirahat yang cukup. Akivitas belajar dan
bermain harus seimbang.
·
Ciri
khas secara mental
-
Daya
khayal sangat kuat, masih sulit membedakan apa yang sungguh(nyata) dan apa yang
khayal.
-
Masih
berpikir secara harafiah dan belum dapat menerima hal-hal yang abstrak.
Menggunakan alat peraga akan sangat baik untuk membantu pemahaman mereka.
-
Kemampuan
membaca semakin bertambah baik.
-
Memiliki
daya ingat yang sangat baik, untuk itu doronglah mereka menghafal ayat-ayat
Alkitab yang dipahami dalam konteksnya.
-
Selalu
bertanya “mengapa”, karena it guru haus bisa member jawaban yang bisa
dimengerti mereka dan masuk akal dan tidak mematikan kreatifitas mereka untuk
bertanya dan berpikir
·
Ciri
khas secara emosi
-
Suka
melamun tentang kesenangan, hiburan dan pretise pribadi sehingga sering dituduh
berbohong.
-
Perasaan
takut masih sering mengganggu pikiran mereka, khususnya film, gambar, atau
cerita yang menakutkan.
·
Ciri
khas secara sosial
-
Mudah
bergaul dan dapat terlibat dalam berbagai aktivitas/permainan kelompok.
-
Suka
mengambil hati orang dewasa.
-
Suka
bekerja sama dan kurang suka berkompetisi.
-
Suka
bertengkar bila berkumpul dengan teman, dan tidak suka bila harus bermain
secara bergiliran.
-
Mulai
sadar akan perbedaan berdasarkan jenis kelamin.
·
Ciri
khas secara rohani
-
Imannya
murni dan menaruh minat terhadap kebenaran.
-
Dapat
berdoa dengan kata-kata sendiri secara spontan.
-
Pada
umumnya suka pergi ke Sekolah Minggu.
- Semua pengalaman rohaninya adalah
meniru tingkah laku dan teladan orang dewasa.
3.
Kelas
Madya (Anak yang berumur 9-11 tahun atau kelas 4,5,6 SD)
·
Ciri
khas secara jasmani
-
Keadaan
kesehatan cukup baik, sudah tidak mudah terserang penyakit, memiliki selera
makan besar. Kegiatan outdoor sangat cocok untuk mereka.
-
Aktif
dan penuh semangat, senang melakukan kegiatan yang sulit dan bersifat
menantang.
-
Pertumbuhan
fisik dan psikologi anak perempuan pada umumnya lebih cepat daripada anak
laki-laki.
·
Ciri
khas secara mental
-
Suka
mengoleksi benda-benda seperti perangko, gambar, stiker, dan benda-benda kecil
lainnya.
-
Daya
kreativitas mereka tinggi.
-
Mulai
bisa berfikir secara logis.
-
Memiliki
daya ingat yang tajam dan baik.
-
Gemar
akan berbagai macam bacaan.
-
Perbedaan
keterampilan, kekuatan, kelemahan pribadi mulai terlihat jelas.
·
Ciri
khas secara Emosi
-
Suka
humor.
-
Kadang-kadang
memiliki perasaan yang tersembunyi, namun mereka sudah bisa mengendalikan diri
(dan menutp-nutupi), sehingga sering berpura-pura.
·
Ciri
khas secara sosial
-
Anak-anak
madya lebih suka bergaul dengan teman sebayanya disbanding dengan orang tua
maupun gurunya.
-
Suka
bergaul dengan teman sejenis dan ada kecenderungan untuk “anti” dengan lawan
jenis.
-
Setia
pada kelompoknya dam menganggap kelompoknya sebagai sesuatu yang istimewa.
-
Semangat
berkompetisi tinggi sekali.
-
Suka
bergurau, termasuk mungkin menertawakan orang lain.
·
Ciri
khas secara rohani
-
Sudah
memahami konsep keselamatan rohani.
-
Memuja
tokoh-tokoh pahlawan/idola.
-
Masa
ini mulai terbentuk kebiasaan yang baik, seperti membaca dam menggali Alkitab,
berdoa, melakukan saat teduh, serta bersaksi.
-
Dapat
menerima pengajaran Alkitab yang agak mendalam.
-
Memperhatikan
keselamatan jiwa orang lain.
- Keadilan dan kasih sayang merupakan
dua hal yang sangat ampuh untuk menenangkan hati anak-anak usia ini. Mereka
sangat kagum degan orang-orang yang memiliki prinsip hidup yang tegas yang
dapat membimbing mereka ke dalam kebenaran.
Dan bukan hanya itu, di GSJA BATU
KARANG pun mengadakan suatu pelatihan guru-guru sekolah minggu, yang kegiatan
ini bisa diikuti oleh siapapun tanpa memandang status sosial atau tingkat
pendidikan. Syarat yang mutlak untuk bisa mengikuti pelatihan Guru-guru sekolah
minggu ini adalah mereka yang sudah bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus
Kristus.
Kegiatan ini bermanfaat
untuk meningkatkan pengetahuan guru sekolah minggu tentang firman Allah yang
hidup, karena iman tidak bisa tumbuh dengan sendiriya, melainkan harus ada
usaha untuk belajar Alkitab. Iman bisa timbul dari pendengaran, artinya
mendengar, belajar dam melakukan dalam penghidupan sehari-hari, dan dengan
adanya pelatihan guru sekolah minggu ini akan dapat meningkatkan dan memajukan
pelayanan Guru Sekolah Minggu.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pelayanan
guru sekolah minggu dalam gereja merupakan hal yang penting dan harus ada di
dalam gereja karena pada masa anak-anak adalah masa yang paling banyak diingat
dan membekas paling lama dibandingkan dengan masa-masa umur yang lain,
anak-anak paling banyak belajar, memiliki rasa ingin tau yang cukup tinggi dan
juga pada masa anak-anak adalah masa pembentukan yang paling mudah. Dunia
anak-anak adalah dunia yang penuh kepolosan karena hati mereka masih jujur dan
bersih, belum banyak dicemari oleh dosa yang jahat, kebiasaan-kebiasaan buruk
belum terbentuk. Oleh karena itu, jika anak-anak mendapat penggajaran yang baik
dimasa kecil maka hidup masa dewasanya akan jauh lebih mudah dibentuk.
Pelayanan guru sekolah minggulah yang dapat menjadi perantara untuk meberikan
pendidikan itu semua selain didalam keluarga maupun di sekolah, maka suatu
pelayanan guru sekolah minggu juga dapat mempengaruhi masa depan anak-anak
Tuhan, karena pada kenyataannya anak-anaklah yang akan menjadi generasi penerus
masa depan Gereja.
Saran
Sebaiknya disetiap gereja
memiliki program kegiatan anak sekolah minggu agar dapat memajukan gereja itu
sendiri dan sebagai bekal pengetahuan agama dimasa mendatang. Semoga makalah
ini dapa dipergunakan sebagaimana mestinya dan menjadi pembelajaran bagi
pembaca agar dapat menambah ilmu pengertahuannya tentang Pelayanan Guru Sekolah
Minggu dan semoga pembaca tidak kecewa dengan membaca makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
-
Alkitab
-
Buku Bahan Materi Pelatihan guru-guru Sekolah Minggu